Setelah sukses membuka era baru DC Universe lewat Superman garapan James Gunn, ekspektasi terhadap film kedua tentu langsung melambung tinggi. Kini giliran Supergirl (2026) mengambil panggung. Namun pertanyaannya sederhana sekaligus berat: apakah Supergirl mampu menyaingi popularitas Superman?
Film ini membawa pendekatan berbeda dibanding kisah Clark Kent. Jika Superman tampil sebagai simbol harapan dan optimisme, Supergirl hadir sebagai karakter yang lebih berantakan, emosional, dan dipenuhi luka masa lalu. Perbedaan itu sebenarnya menarik, tetapi apakah cukup untuk membuat penonton jatuh cinta seperti mereka mencintai Superman?
Dalam review Supergirl ini, kita akan membahas berbagai aspek penting mulai dari cerita, karakter, akting, aksi, hingga peluang Supergirl menjadi ikon besar berikutnya di DC Universe.
Awal Cerita yang Menarik: Supergirl Tidak Ingin Jadi Superman

Supergirl mengambil latar setelah akhir film Superman, ketika Clark Kent diketahui sedang menjaga Krypto untuk sepupunya, Kara.
Saat film dimulai, Kara (Milly Alcock) sedang berpesta di luar planet untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-23. Ia tampil jauh dari gambaran superhero ideal, menghindari panggilan Clark, hidup impulsif, dan mencoba melupakan rasa kehilangan yang terus menghantuinya.
Situasi berubah ketika seorang gadis muda bernama Ruthye Marye Knoll datang meminta bantuan untuk membalas dendam kepada Krem of the Yellow Hills, sosok yang membunuh keluarganya.
Namun Kara baru benar-benar terlibat ketika Krem meracuni Krypto dan hanya memberi waktu tiga hari untuk mendapatkan penawarnya.
Premis ini sebenarnya cukup kuat.
Alih-alih menyelamatkan dunia seperti Superman, cerita Supergirl terasa lebih personal. Ada misi penyelamatan, perjalanan antargalaksi, dan konflik emosional yang berakar dari kehilangan.
Di atas kertas, ini adalah fondasi yang bagus untuk membangun identitas Supergirl.
Karakter Kara yang Kompleks, Tapi Kurang Konsisten

Kelebihan terbesar sekaligus kelemahan utama film ini ada pada karakter utamanya.
Superman versi David Corenswet bekerja karena penonton langsung memahami siapa Clark sebenarnya: sosok yang selalu mencari sisi baik dari dunia.
Sedangkan Kara jauh lebih rumit.
Ia tumbuh di sisa planet Krypton, dibesarkan oleh orang tua yang penuh kasih, lalu dipaksa kehilangan semuanya dan melarikan diri demi bertahan hidup.
Trauma itu membentuk dirinya.
Film mencoba menunjukkan bagaimana Kara menutupi kesedihan lewat pesta dan alkohol, lalu perlahan belajar menerima kehilangan selama perjalanannya bersama Ruthye.
Masalahnya, perkembangan emosional itu terasa tidak sepenuhnya jelas.
Ada momen ketika Kara tiba-tiba tampak berubah dan mulai memahami dirinya sendiri, tetapi transisi emosinya kurang terasa. Akibatnya, perjalanan karakter yang seharusnya menjadi inti cerita terasa tertutup oleh terlalu banyak distraksi.
Padahal, tema tentang duka dan pencarian identitas sebenarnya punya potensi besar untuk membedakan Supergirl dari Superman.
Sayangnya, film ini seperti belum benar-benar yakin ingin menjadikan konflik internal Kara sebagai fokus utama.
Milly Alcock Bersinar, Tapi Film Terlalu Sibuk dengan Banyak Hal

Kalau ada alasan terbesar untuk tetap menonton film ini, jawabannya adalah Milly Alcock.
Penampilannya sebagai Kara membawa energi yang berbeda dari pahlawan DC pada umumnya.
Ia mampu menampilkan sisi rapuh tanpa membuat karakternya terasa lemah.
Beberapa adegan saat Kara mengingat orang tuanya atau menunjukkan kepedulian kepada Krypto menjadi bagian paling emosional dalam film.
Interaksinya bersama Ruthye juga cukup menyenangkan dan membantu memberi ruang bagi sisi manusiawi karakter ini.
Namun film sering kali kehilangan fokus.
Kemunculan Lobo yang diperankan Jason Momoa memang menghibur. Karakternya karismatik, lucu, dan memberi dinamika baru.
Tetapi secara naratif, kehadiran Lobo terasa lebih seperti alat penggerak cerita daripada bagian penting dari perkembangan Kara.
Begitu juga dengan beberapa adegan aksi besar yang terlihat keren secara visual, tetapi tidak selalu membantu memperkuat emosi cerita.
Akibatnya, film terasa seperti ingin menjadi petualangan luar angkasa, film aksi, komedi, sekaligus drama kehilangan, namun tidak semuanya mendapat porsi yang seimbang.
Aksi, Humor, dan Krypto Tetap Jadi Daya Tarik Utama

Meskipun punya beberapa kelemahan, bukan berarti Supergirl gagal total.
Film ini tetap punya banyak momen menyenangkan.
Adegan aksi tampil energik dan cukup spektakuler untuk ukuran film superhero modern. Skala petualangan antargalaksi memberi nuansa berbeda dibanding Superman yang lebih membumi.
Humornya juga bekerja di beberapa bagian.
Pembukaan film yang menunjukkan Kara berpesta memberikan identitas unik dan memperlihatkan bahwa Supergirl bukan sekadar versi perempuan dari Superman.
Lalu tentu saja ada Krypto.
Meskipun porsinya tidak terlalu besar, setiap kemunculan anjing super ini tetap berhasil mencuri perhatian. Kehadirannya memberi keseimbangan emosional sekaligus komedi.
Penampilan David Krumholtz sebagai Zor-El juga menjadi salah satu elemen emosional yang cukup berkesan.
Secara keseluruhan, Supergirl tetap terasa seperti tontonan blockbuster musim panas yang menghibur.
Hanya saja, film ini belum memiliki momen ikonik yang benar-benar membuat penonton ingin kembali menontonnya berulang kali.
Bisakah Supergirl Menyaingi Popularitas Superman?

Inilah pertanyaan utama dalam review Supergirl ini.
Jawaban singkatnya, untuk saat ini, belum.
Bukan karena Supergirl adalah karakter yang kurang menarik.
Justru sebaliknya, Kara punya kompleksitas yang bahkan lebih besar dibanding Clark.
Namun Superman hadir dengan visi karakter yang sangat jelas. Penonton keluar dari bioskop dan langsung memahami siapa Clark Kent.
Sedangkan setelah menonton Supergirl, masih ada pertanyaan besar tentang siapa sebenarnya Kara dan seperti apa identitasnya di DC Universe.
Film ini terasa seperti baru membuka pintu.
Popularitas karakter superhero tidak hanya ditentukan oleh kualitas satu film, tetapi juga konsistensi pengembangan karakter dalam jangka panjang.
Superman memiliki puluhan tahun sejarah budaya pop yang membentuk citranya sebagai simbol harapan.
Supergirl masih mencari bentuknya.
Meski begitu, peluangnya tetap ada.
DC Studios patut diapresiasi karena cukup cepat menghadirkan film solo superhero perempuan di era baru mereka. Dan meskipun hasilnya belum sekuat Superman, fondasi karakter Milly Alcock masih sangat menjanjikan.
Jika film berikutnya mampu lebih fokus pada identitas Kara dan mengurangi distraksi yang tidak perlu, bukan tidak mungkin Supergirl berkembang menjadi salah satu wajah utama DC Universe.
Supergirl adalah film superhero yang cukup menghibur dengan aksi solid, performa kuat dari Milly Alcock, dan tema emosional yang menarik. Namun untuk sekarang, film ini masih belum cukup kuat untuk menyaingi aura dan popularitas Superman.
Setelah lihat review Supergirl, tonton filmnya di sini
Pantau terus BahasFilm.Id untuk recap dan pembahasan mendalam setiap minggunya!a terbaru seputar Season 2 dan teori-teori menarik lainnya!
- 10 Film Live Action 90an yang Masih Seru Ditonton Sekarang - 29 Juni 2026
- Review Supergirl, Bisakah Menyaingi Popularitas Superman? - 29 Juni 2026
- Review Game of Thrones Season 3 Episode 1, Keren Banget! - 18 Juni 2026
Supergirl
Director: Craig Gillespie
Date Created: 2026-06-22 09:57
3
Pros
- 1. Awal Cerita yang Menarik: Supergirl Tidak Ingin Jadi Superman
- 2. Aksi, Humor, dan Krypto Tetap Jadi Daya Tarik Utama
Cons
- 1. Karakter Kara yang Kompleks, Tapi Kurang Konsisten
- 2. Milly Alcock Bersinar, Tapi Film Terlalu Sibuk dengan Banyak Hal




