Film festival adalah sebuah film yang umumnya di bawah radar penonton. Jika penonton biasanya akan dengan cepat mengetahui film-film komersil yang rilis di bioskop, mereka mungkin akan tidak tahu tentang film festival.
Umumnya, film festival yang terkenal biasanya sudah didistribusikan ke bioskop. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan kalian tentang film, kali ini Bahasfilm.id akan membahas mengenai ciri-ciri film festival yang wajib kamu ketahui.
Nilai Seni Lebih Diutamakan oleh Film Festival

Salah satu perbedaan utama terletak pada fokus para pembuat film. Festival film biasanya menjadi wadah bagi karya-karya yang mengutamakan nilai artistik. Inilah sebabnya banyak film yang lahir dari festival cenderung bergenre avant-garde.
Genre ini merujuk pada pendekatan eksperimental dan inovatif yang sering digunakan sineas dalam berkarya. Film semacam ini tidak selalu sesuai dengan selera umum dan dianggap kurang menguntungkan secara komersial.
Justru, karya-karya ini lebih ditujukan bagi kalangan tertentu seperti kritikus dan pecinta film sejati. Tak heran jika banyak sutradara kawakan lebih memilih memutar film mereka pertama kali di festival ketimbang langsung di bioskop.
Mereka paham bahwa setiap karya mereka selalu menarik perhatian para penggemar. Ini bisa disebut sebagai strategi pemasaran yang spesifik, di mana pencipta film memahami dengan jelas siapa target audiens mereka dan memilih untuk menayangkan filmnya di tempat yang tepat.
Dalam hal ini, festival film menjadi ruang ideal karena mempertemukan para penonton yang memang memiliki ketertarikan mendalam terhadap dunia sinema.
Ide Penciptaannya yang Unik

Selain avant-garde, banyak film yang lahir dari festival mengusung realisme dan variannya. Hal ini masih berkaitan erat dengan unsur artistik yang diutamakan. Berbeda dari film komersial yang lebih lugas agar mudah dicerna semua orang, realisme sering hadir dengan pendekatan halus dan kompleks. Film-film ini kerap mengandung simbolisme mendalam serta pesan tersembunyi.
Maka, tak heran jika banyak karya festival minim dialog atau menampilkan adegan yang tampak absurd. Semua itu disengaja untuk memberi ruang bagi penonton dalam menafsirkan makna secara mandiri. Justru dari ketidakjelasan inilah perbincangan bermula.
Itulah alasan mengapa sesi diskusi antara sineas dan penonton hampir selalu ada setelah pemutaran di festival film. Lebih dari sekadar hiburan, film festival tampaknya juga berfungsi sebagai medium refleksi dan pemicu pemikiran kritis.
Namun, bukan berarti film komersial tidak bisa melakukan hal serupa. Banyak juga film populer yang mengundang spekulasi dan teori dari penonton karena narasinya yang ambigu serta berlapis.
Biasanya Belum Memiliki Distributor

Salah satu perbedaan mencolok adalah bahwa mayoritas film yang langsung tayang di bioskop sudah memiliki distributor, sehingga dapat dipasarkan ke publik secara luas. Sementara itu, banyak film festival justru berstatus independen.
Mereka mungkin sudah diproduksi oleh studio tertentu, tetapi belum mendapatkan kesepakatan distribusi. Oleh karena itu, festival menjadi ajang bagi sineas untuk menarik perhatian distributor.
Distributor independen sering berburu film potensial di festival. Misalnya, A Different Man berhasil menarik minat A24 setelah pemutarannya di Sundance Film Festival 2024.
Film Norwegia Armand mendapatkan hak siar dari IFC Films setelah tayang di Cannes, sedangkan Queer baru memperoleh distributor sebulan setelah premiernya di Venice Film Festival 2024.
Namun, tidak semua film festival berangkat tanpa distributor. Beberapa justru sudah memiliki kesepakatan sebelum pemutaran perdana.
Contohnya, The Substance telah diamankan oleh MUBI sebelum tayang di Cannes Film Festival 2024. Anora sudah meneken kontrak dengan NEON sebelum debutnya di Cannes pada Mei 2024, dan The Room Next Door bahkan telah dibeli Sony Pictures Classics sebelum premiernya di Venice Film Festival 2024.
Cari informasi tentang film festival di sini
Jangan sampai ketinggalan update berita terbaru dan pembahasan unik soal film dan series hanya di BahasFilm.id.